GONJANG-GANJING  KENAIKAN HARGA MINYAK GORENG : BAGAIMANA TANGGAPAN PARA MASYARAKAT DAN PARA PEJABAT?

Di tengah kondisi pandemi Covid-19 yang mulai membaik, masyarakat dihadapkan pada masalah kenaikan harga minyak goreng yang merupakan salah satu kebutuhan pokok. Kenaikan harga minyak goreng mulai dirasakan sejak Oktober 2021. Kenaikan harga minyak goreng menyumbang inflasi sebesar 0,04 persen pada Maret 2022.

Minyak goreng bagi masyarakat Indonesia adalah salah satu kebutuhan pokok atau merupakan salah satu dari Sembako (sembilan bahan pokok) menurut keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan. Dalam kehidupan sehari-hari minyak goreng dikonsumsi oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia baik yang berada di perkotaan maupun perdesaan. Sejak akhir tahun 2021 kenaikan dan kelangkaan minyak goreng menjadi masalah yang muncul di Indonesia setelah permasalahan mengenai pandemi Covid-19yang mulai mereda.

Adapun beberapa upaya kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah dalam menangani kenaikan harga minyak goreng, seperti:

  • Mengeluarkan subsidi untuk harga minyak goreng dengan memanfaatkan dana perkebunan dari kelapa sawit yang dikelola oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDKS)
  • Kebijakan Harga Eceran Tertiggi (HET)
  • Domestic Market Obligation (DMO) atau suatu kewajiban bagi perusahaan untuk memasok produksi minyak goreng bagi pasar dalam negeri.

Kebijakan yang telah disebutkan diatas  telah diatur  oleh Peraturan Menteri Perdagangan. Kebijakan-kebijkan ini dimaksudkan agar harga minyak goreng dapat dijangkau oleh konsumen masyarakat Indonesia. Dengan tujuan untuk mengatasi masalah minyak goreng, namun hinga Maret 2022 kelangkaan akan salah satu dari sembilan bahan pokok ini masih terasa di wilayah-wilayah hampir seluruh Indonesia.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyatakan pelepasan minyak goreng subsidi seharga Rp14.000 per liter seharusnya diikuti dengan kebijakan pembatasan pembelian, seiring dengan maraknya aksi borong atau panic buying yang dilakukan konsumen. Stok minyak goreng kemasan di ritel modern terpantau berkurang drastis sejak pemerintah menerapkan kebijakan satu harga pada 19 Januari 2022. Sehingga terjadi perilaku panic buying yang merupakan fenomena anomali dan merefleksikan sikap egois pengguna akhir.

Bahwasannya panic buying yang terjadi pada masyarakat merupakan dampak dari tidak teratasinya masalah kelangkaan minyak goreng itu sendiri, yang mana para konsumen melakukan tindakan yang tidak baik yaitu penimpunan dikarenakan kekhawatiran untuk mendapatkan minyak goreng atau memanfaatkan situasi sebagai ladang bisnis . Terdapat beberapa jenis minyak goreng yang diproduksi dan beredar di pasar masyarakat di Indonesia, di antaranya yaitu minyak goreng sawit, kelapa, jagung dan canola. Minyak goreng jenis sawit inilah yang menjadi minyak goreng yang paling banyak beredar di pasaran, baik dalam bentuk kemasan maupun curah.

Penyebab Minyak Goreng Langka di Pasaran :

  • Ada perbedaan data kebutuhan minyak goreng di dalam negeri (domestic market obligation/DMO) yang dilaporkan dengan realisasinya.
  • Pelaksanaan DMO tersebut tanpa diikuti dengan pemasangan antara eksportir crude palm oil (CPO) atau olahannya dengan produsen minyak goreng.
  • Panic buying masih terjadi.
  • Munculnya spekulan yang memanfaatkan kondisi disparitas harga yang sangat besar antara harga eceran tertinggi (HET) dengan harga di pasar tradisional yang sulit untuk diintervensi.
  • Adanya Penimbunan Minyak.

HIMIA FISIP UMJ

Official Website Himpunan Mahasiswa Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.