Penjajahan Tepi Barat Palestina dan Sikap Indonesia Terhadap Kolonialisme dan Imperialisme

Awal tahun 2020 lalu Amerika Serikat membuat proposal perdamaian untuk konflik Israel dengan Palestina. Proposal tersebut dijuluki Deal of The Century atau “Kesepakatan Abad Ini”. Dalam proposal perdamaian ala Trump tersebut terpampang nyata bahwasanya fokus mereka hanyalah pada bidang ekonomi dan pengokohan zionis semata, tidak ada tujuan tulus untuk menyelesaikan konflik dengan adil ataupun menciptakan perdamaian antara kedua belah pihak. Wakil Presiden Indonesia K.H Ma’ruf Amin angkat bicara persoalan proposal perdamaian Trump tersebut, “Indonesia tetap pada sikapnya. Dengan adanya proposal yang baru, tetap membela Palestina. Sesuai dengan prinsip yang dianut,” ujar Ma’ruf usai menerima laporan dari Menteri Luar Negeri (13/2/2020).
Pemindahan ibu kota Israel dari Tel Aviv ke Yerussalem dan adanya pengambilan alih kekuasaan Masjidil Aqsa secara penuh kepihak Israel, ditambah dengan pencaplokan wilayah Tepi Barat Palestina oleh zionis Israel yang dimulai per tanggal 1 Juli 2020 kemarin membuat lengkap rencana penguasaan wilayah Palestina oleh Israel. Hal tersebut tidaklah terlepas dari Deal Of The Century yang disahkan dan diimplementasikan secara sepihak oleh Israel. Isi dari proposal Trump yang tidak masuk akal ini salah satunya yaitu pencaplokan Lembah Jordan dan tanah Palestina yang saat ini dijadikan pemukiman zionis Israel di Tepi Barat. Saat ini, daerah tersebut berada di bawah kekuasaan Israel dan telah melanggar hukum internasional, karena menggunakan tanah Palestina untuk tempat tinggal mereka sementara warga Palestina harus mengungsi ke negara tetangga.
Di zaman modern dan canggih ini ternyata masih dapat kita temui negara terbelakang yang masih menganut Kolonialisme dan Imperialisme, contohnya adalah Zionis Israel tersebut. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kolonialisme adalah paham tentang penguasaan oleh suatu negara atas daerah atau bangsa lain dengan maksud untuk memperluas negara itu, sedangkan imperialisme adalah sistem politik yang bertujuan menjajah negara lain untuk mendapatkan kekuasaan dan keuntungan yang lebih besar. Kedua pemahaman tersebut sangat mudah kita temui dan melekat dalam diri Zionis karena secara terang-terangan menjajah wilayah Palestina dan bahkan berani menentang konstitusi Internasional hanya demi keuntungan mereka.
Bapak Proklamator dan Presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno sangat mengecam keras sikap Kolonialisme, Imperialisme bahkan Kapitalisme terlebih terhadap Israel. Hal ini tidak boleh dilupakan oleh seluruh rakyat Indonesia dan juga para Elite Politik di Parlemen. Perjuangan membela Palestina oleh Ir. Soekarno dibuktikan dengan menolak keras keikutsertaan Israel pada Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung Pada bulan April tahun 1955. Justru sebaliknya, Konferensi Asia Afrika itu dihadiri oleh pejuang Palestina Yasser Arafat. Pada gelaran pesta olahraga ke-4 yang diselenggarakan di Jakarta pada tahun 1962, Presiden Soekarno juga menolak keras keikutsertaan Israel sebagai anggota Asian Games saat itu.
Suara memperjuangkan Palestina keras digaungkan oleh Ir. Soekarnao pada pidato fenomenalnya dan sekaligus mempertegas bahwa Indonesia mendukung Palestina dan mengecam Zionis Israel
“Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menentang penjajahan Israel…” Ir. Soekarno, 1962
Maka dari itu Indonesia saat ini haruslah dapat mencontoh keberanian Bapak Proklamator dalam menyuarakan kemerdekaan bagi warga Palestina dan mengecam para kaum Kolonilisme dan imperalisme serta kapitalisme. Masyarakat Indonesia pun haruslah selalu mendukung dan mensuport saudaranya di Palestina, demi mewujudkan kata “Penjajahan di atas Dunia haruslah dihapuskan”

HIMIA FISIP UMJ

Official Website Himpunan Mahasiswa Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.